Bukanhanya sekadar bermain, beberapa pesepak bola di bawah ini bahkan rela menghabiskan dana jutaan dollar untuk membangun tim esport. Kecintaan Lionel Messi kepada dunia sepak bola bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia virtual. Kalau cerita tentang gelandang Manchester United yang satu ini sedikit unik. Berbeda dengan
JawaPoscom-Legenda sepak bola asal Brasil Ronaldinho kemarin tiba di Jakarta. Mantan bintang FC Barcelona itu datang ke Indonesia untuk menjalani sejumlah agenda. Salah satunya, mengikuti pertandingan trofeo sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (26/6) malam.
Bukupertama yang ia tulis ialah BEPE20 Ketika Jemariku Menari dan kedua berjudul BEPE20 PRIDE.Kedua buku itu bercerita mengenai perjalanan karier seorang Bambang Pamungkas. Dalam buku berjudul BEPE20 PRIDE, Bambang bercerita banyak hal tentang kisruh yang ada di sepak bola Indonesia, termasuk ketika terjadi dualisme kompetisi dan federasi, dan tim nasional.
Yangpertama adalah hobi bermain sepak bola dari si pemain menjadi terfasilitasi dan yang kedua adalah dari hobi bermain sepak bola itu kemudian bisa dijadikan pekerjaan untuk mendapatkan uang. Hobinya sudah terlampiaskan, mendapatkan uang puladouble keuntungan bagi orang pekerjaannya sebagai pemain sepakbola.
Hobisaya adalah bermain bola.. Contoh Karangan Bahasa Arab Tentang Hobi Saya هوايتي dan Artinya. Assalamualaikum sahabat pecinta bahasa arab pada kesempatan kali ini admin akan membagikan karangan bahasa arab tentang kegiatan di sekolah.
Zl5m3J. Cerpen Karangan Wildan MusthofaKategori Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja Lolos moderasi pada 10 May 2016 Aku bernama Putra Alfizar. Panggil saja putra. Aku duduk di kelas 2 SMP. Aku sangat hobi bermain sepak bola hingga aku ikut ekstrakulikuler futsal di sekolahku. Namun aku ikut tanpa diketahui oleh kedua orangtuaku. Hal ini disebabkan aku dilarang untuk bermain bola oleh ayahku. Alasannya adalah ayahku ingin menjadikan aku sebagai penerus cita-cita ayahku yaitu sebagai polisi. Pada suatu hari, aku baru saja pulang dari berlatih main bola. Pada saat itu ayahku sedang berada di teras tengah menunggu kepulanganku. “Aduh, Ayah ada di teras lagi.” Ucapku dalam hati. “Assalamualaikum.” Ucapku. “Waalaikumsalam. Dari mana kamu?” Tanya ayahku. “Dari rumah temen Yah.” Jawabku. “Bener dari rumah temen?” Tanya ayah dengan sedikit sinis. “Bener.” Jawabku lagi. “Kalau dari rumah temen, kenapa tadi Ayah lihat kamu berada di sekolah?” Tanya ayah sedikit mendesak. “Aduh, bikin alesan apa lagi ya.” Ucap batinku. “Itu.. Anu.” Ucapku sedikit gugup. “Anu apa?” Tanya ayahku. “Anu ngerjain tugas kelompok.” Jawabku deg-degan. “Masa ngerjain tugas kelompok sambil main bola.” Ucap ayahku yang membuat aku semakin panik. “Jangan-jangan tadi Ayah lihat lagi aku latihan main bola. Aduh gimana ya? Jujur aja deh.” Ucap batinku. “Oke.. Jujur, aku abis latihan main bola.” Seruku. “Sudah Ayah duga. Kamu telah melanggar peraturan Ayah!!” Gertak ayah sambil terbangun dari duduknya. “Iya, Yah aku tahu. Tapi aku tak bisa meninggalkan sepak bola.” Jawabku. “Kenapa?!!” Tanya ayahku. “Karena sepak bola telah mendarah daging denganku. Dan sepak bola juga sudah menjadi cita-citaku.” Jawabku dengan rasa takut. “Ayah mau kamu menjadi seorang polisi bukan pemain sepak bola!!” Amarah ayahku mulai keluar hingga membuat aku panik. Di saat itu juga ibuku ke luar dari rumah. “Ini ada apa sih ribut-ribut?” Tanya ibuku. “Ini anakmu ini sudah melanggar peraturanku. Ayah melihat dia bermain bola di sekolahnya.” Jelas ayahku. “Emang apa salahnya kalau dia bermain bola?” Tanya ibuku. “Kan Ibu tahu. Ayah tidak ingin si Putra menjadi pesepak bola, melainkan menjadi seorang polisi.” Jelas ayahku lagi. “Putra cepat masuk, setelah itu mandi.” Ucap ibuku. “Iya Bu.” Jawabku. “Ayah jangan marah-marah begitu dong.” Ucap ibuku. “Memang kenapa?” Tanya ayahku. “Malu sama tetangga.” Jawab ibuku. “Biarkan saja, biar si Putra tahu bagaimana rasanya malu.” Jawab ayahku. Lalu ayahku langsung masuk ke dalam rumah. Keesokan harinya. “Yah, Bu Putra berangkat sekolah dulu ya.” Ucapku. “Iya hati-hati.” Jawab kedua orang tuaku. Sesampainya di sekolah “Putra.” Teriak Ferdi dari kejauhan. Aku pun langsung menghampirinya. “Kenapa Fer?” Tanyaku. “Gak ada apa-apa. Aku cuma mau kasih tahu nanti siang sepulang sekolah ada pertandingan semi final olimpiade futsal antar sekolah. Kamu bisa ikut kan?” Ucapnya. “Iya.. Insya Allah aku ikut.” Jawabku. Aku pun langsung pergi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Setelah pulang sekolah aku pun ke lapangan untuk bertanding. Namun aku berpikir, “Bagaimana kalau Ayahku tahu?” Namun aku tak menghiraukan itu. Tak lama kemudian pertandingan pun dimulai. Sekitar 25 menit babak pertama berlangsung. Namun, aku tidak bisa berkonsentrasi penuh karena takut ketahuan oleh ayahku. Ternyata di rumah, kedua orangtuaku sedang mengkhawatirkanku. “Bu, si Putra ke mana? Kok jam segini belum pulang.” Ucap ayahku. “Gak tahu Yah.” Jawab ibuku. “Ya udah entar kalau pulang kasih tahu Ayah ya. Ayah mau ke pasar dulu.” Pamit ayahku. “Iya Yah. Hati-hati.” Jawab ibuku. Seperti yang ku khawatirkan, ternyata ayahku melewati lapangan tempatku bertanding. “Mas, ini ada apa ya rame-rame?” Tanya ayahku. “Ada pertandingan semi final olimpiade futsal antar sekolah.” Jawab salah seorang penonton. “Permisi.” Ucap ayahku sambil melangkah ke depan. “Oh, ternyata kau ikut juga, awas kau Putra.” Ucap ayahku dalam hati. Ayahku langsung meninggalkan lapangan dan kembali ke rumah. “Ke pasar kok cepet banget Yah.” Ucap ibuku karena heran. “Gak jadi.” Jawab ayahku. Setelah pertandingan selesai, aku pun segera bergegas menuju rumah dengan hati ragu-ragu. “Assalamualaikum.” Ucapku. “Waalaikumsallam.” Jawab kedua orang tuaku. “Putra, kamu sudah berani melawan Ayah ya!” Ucap ayahku sembari menjewer kupingku. “A..a..ampun Yah.” Ucap ku terbata-bata. “Untuk hukumannya kamu Ayah kurung di gudang selama tiga hari.” Ucap ayahku. “Yah, jangan Yah. Dia masih terlalu muda.” Seru ibuku. Brak! suara terdengar ketika aku dilempar dan menghantam tumpukan kardus. Dan seketika itu pula pintu ditutup dan dikunci. “Yah, udah Yah. Lepasin Putra.” Ucap ibuku. “Ibu ini gimana sih? Kok malah membela Putra yang sudah jelas melanggar peraturan.” Tanya ayahku. “Aku kasihan Yah. Melihat di–” Ucapan ibuku terpotong. “Ahh.. Sudah biarkan saja dia!” Seru ayahku. Ayahku pun langsung meninggalkan ibu. “Putra, kamu tidak apa-apa?” Tanya ibuku dari luar pintu. “Gak apa-apa Bu.” Jawabku. “Terus gimana nih Bu? Besok aku ada pertandingan futsal, final lagi. Gimana nih Bu?” Ucapku. “Tunggu ya. Ibu cari jalan ke luar dulu.” Ujar ibuku. Ibuku terus mencari jalan ke luar agar aku bisa bebas dari gudang. Hingga keesokan harinya, ketika ayah akan pergi ke suatu tempat, ayah menitipkan kuncinya ke ibu. Pada saat itulah ibu membukakan pintu gudang. “Bu, Ayah mau pergi dulu. Jaga rumah dengan baik ya.” Pesan ayahku. “Iya Yah.” Jawab ibuku. “Nah kesempatan nih buat ngebebasin Putra dari gudang.” Ucap batin ibuku. Tak perlu waktu lama untuk membuka pintu gudang. Dan saat itu juga aku bersiap-siap untuk pergi ke tempat pertandingan. Pertandingan ini juga pertandingan yang spesial karena pertandingan ini disiarkan di TV secara langsung. Setelah sarapan, aku pun langsung pergi meninggalkan rumah. Tapi apa daya ayahku kembali lagi. Aku pun panik. Namun ibu berkata, “Cepat keluar lewat pintu belakang.” Aku pun nurut saja. “Ibu, kenapa pintu gudang terbuka?” Tanya ayahku. Namun ibu diam saja. “Pasti Ibu melepaskan anak itu. Iya kan?” Seru ayahku. “Ahh.. Sial!” Kesal ayahku. Di perjalanan aku bingung ingin ke tempat pertandingan naik apa. Sedangkan aku sudah telat. Pertandingan kali ini buka di lapangan. Melainkan di Gelora Olah Raga. Seketika itu juga ada mobil bak lewat. Dan aku memberhentikannya. “Bang, bang. Berhenti bang.” Seruku. “Iya dek kenapa?” Tanya sopir mobil bak tersebut. “Abang mau ke mana?” Tanyaku. “Mau ke GOR.. Nganterin aqua buat para pemain futsal.” Jawabnya. “Kebetulan bang saya juga mau ke sana.” Ucapku. “Ya udah ayo bareng.” Ujar sopir mobil bak. “Iya bang.” Jawabku dengan perasaan senang. Di GOR “Duh.. Mana sih si Putra?” Ucap pelatihku. “Tunggu aja sebentar lagi juga datang.” Jawab Ferdi. “Pertandingan akan segera dimulai. Dipersilahkan kedua tim untuk memasuki lapangan.” Ucap panitia. “Pak pelatih, gimana nih? Putra belum datang.” Ucap Ferdi resah. “Ya sudah, cepat kamu ke lapangan saja semoga Putra datang tepat waktu.” Jawab pelatih. Di samping itu, aku yang tengah terburu-buru langsung mengganti pakaian di ruang ganti. Perlu waktu cukup lama karena aku harus memakai sepatu. “Ke mana pemain satu lagi?” Tanya wasit. “Belum datang Pak.” Jawab Ferdi. “Pak tolong hitung mundur sepuluh detik, jika pemain belum datang juga, maka tim Putra akan dinyatakan kalah.” Ucap Wasit. “Oke.” Jawab panitia. “Kita hitung sepuluh detik, jika pemain dari tim Putra belum datang maka akan dinyatakan kalah, sepuluh, sembilan, delapan, tujuh,….” Ucap panitia. “Ok udah siap semuanya.” ucapku. Aku pun langsung berlari menuju lapangan. “Tiga, dua.” ucap panitia. “Tunggu!!!” Seruku. “Ya.. Sepertinya sudah datang orang yang kami tunggu-tunggu. Silakan dimulai.” Ucap Panitia. Pertandingan pun dimulai. Dan semua pemain berusaha sekuat mungkin. “Yah, coba lihat deh.” Ucap ibuku. “Apaan?” Tanya ayahku. “Itu anak kita Putra masuk TV.” Seru ibuku. “Masih aja tuh anak nekat main bola.” Ucap ayahku. “Biarin lah Yah.” Ucap ibuku. “Ya udah sini nonton aja.” Ucap ibuku lagi. Prittt, pritt suara peluit panjang mulai terdengar pertanda pertandingan telah selesai. Tak lama kemudian, panitia mengumumkan siapa pemenang pertandingan final olimpiade futsal antar sekolah. “Kita sudah sampai di penghujung acara yaitu dimana kita akan mengetahui siapa pemenangnya. Dan pemenangnya adalah Tim Putra!! Silakan pemain dari tim Putra untuk mengambil hadiah dan pialanya!!” Seru panitia. “Yeeaahhh.” Teriak suporter dari sekolahku kegirangan. Setelah kami mendapat hadiah dan piala, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Saat itu aku membawa pulang pialanya. Sebenarnya pialanya untuk sekolah. Tapi aku mendapat 1 piala lagi dengan bertuliskan pemain paling hebat di olimpiade. Sesampainya di rumah. “Assalamualaikum.” Ucapku. “Waalaikumsalam.” Saut kedua orang tuaku. “Ayah, Ibu.. Aku menang olimpiade terus dapat piala lagi.” Ucapku senang. “Selamat Nak, Ibu bangga sama kamu.” Ucap ibuku. Namun di sisi lain ayahku merasa sangat marah. Ayahku pun menghampiriku. “Coba sini lihat pialanya.” Pinta ayahku. Aku pun menurutinya. Prang! sontak aku dan ibuku kaget. “Ayah, kenapa dibanting pialanya?” Tanyaku kaget. “Ayah tidak suka kalau kamu menerima piala, apalagi piala yang berhubungan dengan main futsal ataupun bola.” Bentak ayahku. Setelah kejadian itu, aku mulai berhenti bermain bola. Untuk menggantinya aku membantu ibu di warung. Di suatu saat, aku sedang ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tiba-tiba datang banyak orang. Sepertinya orang tersebut berasal dari salah satu media cetak. “Pak mau tanya rumah anak yang bernama Putra Alfizar di mana ya?” Tanya seseorang dari mereka. “Saya Ayahnya, kenapa?” Tanya ayahku. “Begini, kami dari produser salah satu media cetak. Kami ingin meliput Putra Alfizar yang memenangkan lomba olimpiade kemarin.” Jelasnya. “Meliput?” Ayahku heran. “Sebentar saya panggil dulu anaknya.” Ucap ayahku. “Putra, Putra!!” Teriak ayahku. “Kenapa Yah?” Tanyaku. “Itu, ada produser media cetak mau meliput kamu.” Jawab ayahku. “Produser Media cetak?” Aku merasa heran. Setelah bertemu dengan orang dari media cetak, aku kembali ke dalam rumah. Di dalam rumah aku sempat punya firasat bahwa aku akan menjadi terkenal. “Putra!” Panggil ayahku. “Iya Yah, kenapa?” Jawabku sambil mengambil air minum. “Ayah merasa bangga sama kamu, selain menjadi juara, kamu juga diliput oleh media cetak. Dan Ayah minta maaf kalau Ayah pernah kasar sama kamu.” Ucap ayahku. “Ngga apa-apa Yah.” Jawabku singkat. “Dan sebagai gantinya Ayah memperbolehkan kamu bermain bola.” Ucap ayah. “Bener Yah?” Tanyaku dengan perasaan senang. “Iya.” Jawab ayahku. Setelah itu aku berpelukan dengan ayahku. Dan setelah kejadian itu aku mempunyai tekad dan cita-cita menjadi seorang pemain bola yang profesional. TAMAT Cerpen Karangan Wildan Musthofa Facebook Wildan Musthofa Cerpen Biarkan Aku Bermain Bola merupakan cerita pendek karangan Wildan Musthofa, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kue Cokelat Elsa Oleh Syarla Feonisa Bunda suka sekali masak, terutama biskuit, kue, dan makanan manis lainnya. Menurut Elsa, tak ada yang bisa menandingi masakan Bunda di dunia ini. Bahkan, chef hotel bintang lima pun Hanya Sesaat Oleh Rindah Aisyah “Raja… Raja.. Raja..,” Kesya tiada hentinya berteriak memanggil sang pujaan hatinya Raja’, seorang most wanted di SMAN 01 Bandung. Sementara Raja terus berjalan memasuki koridor sekolah tanpa menengok sedikitpun. Perjalanan Pulang Oleh Saka Triandiko Bowo Hari ini, saya baru saja pulang sekolah. Rutinitas di sekolahku yang sangat padat yang membuatku harus pulang pada pukul kira-kira 1300 WIB. Kali ini, aku berjalan kaki ke rumah Geleng Geleng Rapai Geleng Oleh Raihan Khaira Pemuda itu duduk bersila seraya menyenderkan kepalanya di salah satu sisi rangkang. Ia menarik nafas, lalu dihembuskan perlahan. Wajahnya menunjukkan ketertarikannya dengan udara segar pagi ini. Sang surya bersinar Kado Kecil Untuk Rima Oleh M. Ubayyu Rikza Hari ini adalah hari ulang tahun keenam untuk Rima, seorang gadis kecil yang tak pernah bisa memilih dilahirkan oleh sepasang pemulung, yaitu pak Yanto dan bu Yati. Seperti di “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?†"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Saya mengenal olahraga sepak bola ketika saya sd dan saya penasaran ingin bermain sepak bola lalu saya ikut bermain sepak bola bersama teman-teman walapun dengan fasilitas seadanya yang ada di sekolah kami. Ketika hari libur saya bersama teman-teman di lapangan sepak bola yang ada di kampung kami lalu kami membuat tiang gawang menggunakan sendal, lebar gawang pun menggunakan Langkah kaki yang kita sepakati oleh teman-teman lalu kami membuat perjanjian tim yang kebobolan harus membuka bajunya sebagai hukuman untuk tim yang kalah. Terkadang karena asiknya bermain bola hingga lupa waktu untuk saya smp temen saya memberitahu kepada saya ada pelatih sepak bola yang ingin membuka sekola sepak bola SSB tunas garuda yang ada di kampung saya, kemudian saya dan teman-teman mendaftarkan diri di ssb tunas garuda. Dalam 1 minggu kami berlatih 1 minggu 3 kali Latihan setiap sore, mulai dari Latihan dasar seperti dribbling, passing, kontrol bola dan masih banyak berlatih selama kurang lebih 5 bulan ssb kami sparing oleh ssb dari kecamatan lain tujuannya untuk melatih mental, kerja sama tim agar Ketika kami ingin turnamen nanti kami menghadapi lawan terlihat biasa-biasa saja dan siap dan kamipun sparing menang dan gk sia-sia kami berlatih selama kurang lebih 5 bulan itu. Setelah 1 tahun kami berlatih di ssb tunas garuda ini akhirnya kami di beritahu oleh pelatih ada turnamen sepak bola mewakili kabupaten kami di kota , dan kamipun disuruh berlatih seperti biasa dan mengikuti seleksi oleh pelatih kami untuk mengikuti turnamen itu setelah 1 minggu berlatih, seleksipun tiba dan saya dan temen-temen saya terpilih untuk turnamen untuk mewakili kabupaten itu di kota, dan kamipun disuruh persiapan lagi untuk turnamen tersebut dan keesokan harinya kami dan tim ssb berangkat untuk turnamen tersebut mewakili kabupaten di kota, setelah kami sampai di kota kamipun disuruh istirahat dan buat persiapan turnamen tersebut dan keesokan harinya lagi tunamenpun di mulai lalu kamipun bertanding dan hasilnya pun sangat memuaskan dan kamipun menang juara 1 mewakili kabupaten dan enggak sia-sia kami berlatih terus, dan kamipun setelah juara 1 itu pelatih kami ngajak jalan-jalan untuk merayakan juara 1 tersebut dan kamipun berlibur kepantai, sesudah kami berlibur kamipun pulangf ke kampung lagi Bersama teman-teman semuanya. Seperti biasa kami terus berlatih setiap 1 minggu 3 kali dan 1 bulan kemudian pelatih kami mengumumkan bahwa ada seleksi lagi untuk di kirimkan ke Jakarta buat seleksi juga di sana lalu kamipun mempersiapakan agar saya dan temen-temen dapat kepilih kamipun sangat semngat buat Latihan sepak bola , ke esokan harinya seleksi pun tiba kami di seleksi oleh pelatih dan saya sendiri tidak terpilih di karenakan harus banyak berlatih, dan temen-temen saya 3 orang kepilih buat di seleksi lagi Jakarta , lalu minggu depannya pelatih saya dan temen saya 3 orang tadi berangkat ke Jakarta kami dan temen-teman lainnya berharap yang berangkat lulus seleksi buat turnamen di Jakarta dan selesksi selama 1 minggu dan alhasil Cuma 1 orang yang lulus 2 nya tidak bissa ikut di karenakan masih kurang , tapi kami dan kawan-kawan masih merasa Bahagia karena temen saya 1 orang itu bissa membawa nama ssb kami, lalu mereka turnamen di Jakarta untuk mendapatkan piala menpora , dan kamipun berharap temen saya dan timnya bisa menang tetapi tim nya kalah dalam turnamen tersebut, kami dan teman-teman tidak merasa kecewa karena sudah memberikan yang terbaik dan mebawa nama ssb bulan kemudia ssb kami membuka Kembali pendaftaran untuk U18 agar lebih rame dan bissa mengikuti beberpa pertandingan ujar pelatih kami dan banyak kakak-kakak kami yang daftar ada 50 orangan dan seperti biasa mereka Latihan 1 minggu itu 3 kali Latihan mereka harus berlatih seperti biasa kami Latihan dan bukan itu saja pelatih kami merekrut wakil untuk membantu dia dalam melatih kami Latihan , dan Ketika pelatih sedang tidak bissa mengajar ada wakilnya yang melatih kami setelah Latihan 2 bulan kami dan teman-teman dan U18 mengikuti turnamen antar kabupaten untuk mendapatkan piala ulang tahun di kabupaten kami banyak dari ssb lainnya yang daftar untuk bertanding dan mendapatkan piala tersebut kami dan teman-teman saya dan U18 ikut bertanding semua, dan kamipun mempersiapkan untuk pertandinbgan tersebut setelah 1 minggu kemudia pertandingan tersebut di mulai kami pun bertanding dan saya dan teman kalah dalam pertandingan dan untuk U18 memenangkan dan mendapatkan juara 1 dan yang untuk temen-temen saya U14 kalah dalam pertandingan itu. Lihat Hobby Selengkapnya
Saya bermain sepak bola dengan teman-teman yang bernama Fahrul, Arif dan Afif. Saya suka sekali dengan permainan sepak bola. Yang menjaga gawang adalh Arif. Saya sudang meng-golkan lima kali, yang berarti saya menjadi kiper. Hari sudah sore. Saya dan teman-teman pulang. Saya mandi di rumah untuk mengaji. Karya Dzuhri Andika Kelas 3 SDN 2 Gambarsari
Ilustrasi Teknik Play Beautiful dalam Permainan Bola. Foto ShutterStockBanyak di antara kita yang mungkin sangat menyukai sepak bola. Tidak hanya dengan bermain di lapangan, tetapi juga menikmati pertandingan dari pinggir lapangan atau dari layar kaca. Namun, berapa banyak di antara kita yang merasakan sensasi yang lebih dalam setiap menonton sepak bola? Sensasi melihat para pemain berlari melintasi lapangan, mengoper bola, dengan ritme dan pola yang begitu indah hingga menyerupai tarian. Para penikmat sepak bola biasa menyebutnya 'Play Beautiful'. Pelan tapi pasti, teknik ini sedang meredefinisi sepak bola modern, dan perlu kita perhatikan lebih bola selama ini seringkali dipandang sebagai permainan olahraga fisik, di mana kekuatan dan stamina mendominasi. Namun, play beautiful membawa kita ke dimensi baru. Sepak bola tidak hanya tentang mencetak gol, melainkan juga tentang bagaimana cara mencetak gol tersebut. Teknik ini melibatkan keterampilan, kontrol bola, dan kerja sama tim yang harmonis, yang semuanya harus dikombinasikan untuk menciptakan permainan yang indah untuk klub sepak bola yang berbasis di Spanyol, dikenal sebagai pelopor teknik ini. Dalam kutipan yang terkenal, Johan Cruyff, salah satu ikon sepak bola dan mantan pelatih Barcelona pernah berkata bahwa sepak bola adalah permainan yang dimainkan oleh dua tim dengan 11 pemain, dan pada akhirnya Barcelona selalu menang. Pertandingan semifinal leg pertama Copa del Rey antara Real Madrid vs Barcelona, Jumat 3/3 dini hari WIB. Foto Isabel Infantes/REUTERSMeski terkesan arogan, namun kita tidak dapat menyangkal bahwa Cruyff dan Barcelona telah mewujudkan filosofi play beautiful dalam setiap permainan mereka. Berkaca dari pengalaman Barcelona, bukti empiris menunjukkan bahwa play beautiful bukanlah strategi yang sia-sia. Barcelona telah memenangkan berbagai gelar bergengsi, termasuk Liga Champions UEFA beberapa kali, dan banyak dikreditkan karena kecintaan mereka pada play beautiful. Namun, penting untuk diingat bahwa permainan indah ini bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, melainkan juga tentang merayakan seni dan indahnya sepak satu cerita yang mungkin belum banyak diketahui adalah tentang tim sepak bola kecil dari Jepang, yaitu Oita Trinita. Tim ini mengadopsi filosofi play beautiful meski memiliki sumber daya yang terbatas. Dalam salah satu pertandingan yang paling dramatis, mereka berhasil mengalahkan tim dengan pemain yang lebih berpengalaman dan berbakat dengan teknik bermain indah. Menariknya, pelatih Oita Trinita mengatakan bahwa mereka bukan hanya bermain untuk menang, tapi juga untuk memberikan penonton pertunjukan sepak bola yang teknik ini tentu menimbulkan kontroversi. Banyak pengamat sepak bola yang berpendapat bahwa play beautiful adalah strategi yang terlalu idealis dan tidak efisien. Mereka berargumen bahwa sepak bola adalah tentang kemenangan, dan tim harus melakukan apa pun untuk mencapai tujuan itu, bahkan jika itu berarti bermain dengan gaya yang kurang tekel dalam sepak bola. Foto ReutersArgumen tersebut sering kali mengabaikan bahwa sepak bola tidak hanya tentang kemenangan, melainkan juga tentang bagaimana permainan itu dimainkan dan bagaimana itu dirasakan oleh para pemain dan penonton. Seiring berjalannya waktu, penonton semakin menuntut lebih dari sekadar kemenangan. Mereka ingin melihat permainan yang menarik, dengan teknik dan strategi yang unik dan inovatif. Dan itulah yang play beautiful tawarkan seni dalam sepak bola, di mana setiap operan, setiap gerakan, dan setiap gol menjadi bagian dari pertunjukan yang lebih dasarnya, sepak bola adalah pertunjukan. Seperti halnya dalam seni lainnya, penikmat sepak bola menilai pertandingan tidak hanya berdasarkan hasilnya, tetapi juga berdasarkan estetika dan keindahan permainan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Pep Guardiola, pelatih Manchester City yang juga mantan pelatih Barcelona, "Menang atau kalah adalah konsekuensi dari proses, dan proses adalah sepak bola. Dengan kata lain, sepak bola adalah proses menciptakan dan mengekspresikan keindahan melalui permainan."Namun, kita juga harus mengakui bahwa play beautiful bukan tanpa tantangannya. Implementasi teknik ini membutuhkan pemain yang memiliki teknik dan pemahaman taktis yang baik, serta kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik sebagai tim. Oleh karena itu, pengembangan pemain menjadi kunci penting dalam menerapkan teknik Fajar Fathurachman pada laga melawan Thailand di Final SEA Games 2023. Foto Chalinee Thirasupa/REUTERSAkhirnya, kita juga harus mengingat bahwa play beautiful bukanlah satu-satunya cara untuk bermain sepak bola. Ada berbagai strategi dan gaya permainan lainnya yang bisa sama efektif dan menariknya. Meski begitu, play beautiful memberikan perspektif baru tentang bagaimana sepak bola dapat dimainkan dan dinikmati, dan ini layak untuk kita pembahasan ini, saya akan menggunakan kutipan dari filosof Yunani kuno, Socrates, yang mengatakan, "Keindahan ada di mata yang memandang." Di dunia sepak bola, keindahan dapat berarti banyak hal, dan bagi banyak penggemar, play beautiful adalah salah satu interpretasi keindahan itu. Mungkin inilah waktunya bagi kita untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri apa arti keindahan dalam sepak bola bagi kita?
“Memangnya bisa ya main sepak bola tapi online?” ujar salah satu anak ketika diberitahu oleh salah satu pengelola di RPTRA Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Jakarta. Perkenalkan, namanya Sepak Bola Berketahanan atau Coaching for Life. Program ini merupakan kerja sama Save the Children Indonesia dengan Arsenal Foundation. Program ini mengombinasikan kegiatan latihan sepak bola dengan dengan materi ketahanan atau resiliensi dengan cara yang menarik. Saat awal situasi pandemi, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan, salah satunya menutup lapangan sepak bola di fasilitas umum seperti di RPTRA sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19. Hal itu tentu berdampak besar pada aktivitas bermain anak dan perkembangan pendidikan mereka. “If opportunity does not come to you, then create it,” kata sebuah pepatah. Begitupun dengan program ini, yang mana dengan kekuatan sepak bola, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak-anak 12-17 tahun bertindak untuk dirinya sendiri melindungi dari berbagai bentuk kekerasan yang rentan mereka alami. Transformasi dilakukan. Sesi latihan sepak bola tetap bisa berjalan. Meski lapangan ditutup, sesi masih bisa dilakukan secara daring online antara pelatih coach dan anak-anak. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan pembelajaran daring ini tidak membosankan dan membuat mereka menjadi senang. Resiliensi sesungguhnya merupakan kemampuan yang hampir serupa dengan strategi pertahanan dari serangan tim lawan ketika kita di lapangan sepak bola. Bedanya, ini dipraktikkan dalam kehidupan nyata dan di luar lapangan sepakbola. Setiap pekan, selain diberikan menu latihan sepak bola seperti teknik menggiring bola dribbling, teknik mengoper bola passing, teknik menendang bola shooting, dan teknik lain yang bisa mereka lakukan sendiri di rumah, mereka juga mendapatkan materi resiliensi seperti teknik pengenalan diri dan emosi, teknik komunikasi asertif, hubungan antar personal, mengelola konflik, dan kemampuan pengambilan keputusan. Gambar karya peserta Program Coaching for Life sebagai tugas dalam salah satu sesi daring atau online. Dalam salah satu diskusi tentang konflik yang sering terjadi di lapangan, beberapa anak bercerita tentang kejadian dijatuhkan lawan dan wasit tidak melihat pelanggara. Mereka juga menyadari bahwa konflik juga sering terjadi dengan teman sekolah mereka yang beragam karakternya. Mereka diajak untuk merefleksikan bersama apa itu hubungan damai. Dua orang anak mendefinisikan bahwa hubungan damai adalah tidak ada permusuhan atau menyakiti teman, bahkan tidak ada dendam satu sama lain. Anak-anak lain menyetujui dengan menceritakan pengalaman mereka lainnya baik secara langsung maupun lewat gambar. “Materi-materi perkembangan diri seperti resiliensi seringkali enggak menarik buat anak remaja. Tapi kalau dipadukan dengan sepak bola, mereka jadi senang. Dan ketika mereka senang, apapun yang kita berikan bisa mereka terima dengan sangat baik,” ujar salah satu coach saat menceritakan pengalamannya mengajarkan modul Sepak Bola Berketahanan pada anak-anak. Dengan pembelajaran daring, para pelatih juga mengasah kemampuan anak dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya, yang hampir tidak pernah mereka temui atau kenal sebelumnya karena keterbatasan pertemuan tatap muka selama pandemi. Pembelajaran yang baik dalam salah satu materi Sepak Bola Berketahanan adalah bagaimana mereka diajari membangun komunikasi dan hubungan mulai dari lingkungan terdekat di rumah, misalnya adik atau kakak, orang tua, atau orang dewasa lain, serta masyarakat luas agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik, belajar empati, serta menjaga kepercayaan yang diberikan. Hal ini kemudian diungkapkan oleh salah satu anak dalam pesan yang ingin disampaikan untuk orang-orang yang menurut mereka penting dalam lingkaran kehidupannya. “Terima kasih ayah dan ibu sudah mengurusiku dari kecil hingga besar semoga sehat selalu dan untuk sahabatku semoga sehat selalu sahabat makasih untuk selamanya sampai jumpa sahabat,” kata seorang anak. Program Coaching for Life diharapkan dapat membantu anak-anak ini mengembangkan diri dan memiliki kemampuan resiliensi yang baik. Dengan begitu, kapasitas diri mereka meningkat untuk menghadapi tantangan atau situasi yang rentan mengalami kekerasan.
cerita tentang hobi bermain sepak bola